<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<rss version="2.0" 
    xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
    xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
    xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
    xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
    xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">
	<channel>
<title>cyclistreport.org RSS Feed</title><link>http://cyclistreport.org/index.html</link><description>cyclistreport.org News&#x21;</description><dc:language>en</dc:language><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><dc:rights>Copyright 2010 cyclistreport.org</dc:rights><dc:date>2010-08-19T00:23:33+07:00</dc:date><admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.realmacsoftware.com/" />
<admin:errorReportsTo rdf:resource="mailto:cyclistreport.org" /><sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
<sy:updateBase>2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase>
<lastBuildDate>Thu, 19 Aug 2010 00:27:36 +0700</lastBuildDate><item><title>Borobudur tak asyik buat pesepeda&#x21;</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Perjalanan</category><dc:date>2010-08-19T00:23:33+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/06dec52d144a51dd9699208d1f636540-10.html#unique-entry-id-10</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/06dec52d144a51dd9699208d1f636540-10.html#unique-entry-id-10</guid><content:encoded><![CDATA[Tepat pukul 10.00 wib 17 Agustus 2010 tadi, barisan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tiba di tujuan. Di depan papan nama "Taman Wisata Candi Borobudur" kami ber-15 merayakan 65 tahun proklamasi kemerdekaan RI. Tangan kiri mengepal ke udara.<br /> <br />Hanya di depan papan nama saja. Tidak masuk ke dalam. Sebab, sepeda tidak boleh dibawa serta ke dalam. Harap parkir di luar, di tempat sembarangan penitipan kendaraan.<br /> <br />Menurut petugas jaga, sudah setahun larangan itu berlaku. Ia tidak tahu alasannya. Ah, kemunduran jika begitu. Sepeda adalah kendaraan ramah lingkungan. Tidak menyebabkan polusi, selain bau keringat pengendaranya. Ups, bukankah pohon-pohon yang bijaksana itu bersedia menghisap bebauan polutif ini?<br /> <br />Saya kecewa tentu saja. Entah teman yang lain. Memang, peraturan seperti itu kewenangan pengelola lokasi. Silakan saja. Namun, saya punya harapan, ijinkanlah sepeda masuk ke kompleks candi. Tentu, tidak naik sampai ke puncak candi.<br /> <br />Semoga pengelola Candi Borobudur, juga Candi Prambanan dan Ratu Boko membaca ungkapan hati saya ini. Soal ini, saya memperjuangkan betul. Mari kembali hargai sepeda. Juga kendaraan-kendaraan lain yang ramah lingkungan seperti andong dan becak. Hmmm, saya harap Mas Harry van Yogya, tukang becak aktivis fesbuk, membaca ini dan mendukung desakan ini. Turunkan itu rambu-rambu yang melarang andong dan becak masuk kompleks candi. Ini kekayaan negeri kita, negeri yang sudah merdeka 65 tahun! Kok malah disingkang-singkang.<br /> <br />Kalau memang di dalam ada persewaan sepeda, seperti kata teman saya Agustinus Danardono, yang tadi bersama keluarga berkunjung di Borobudur, itu baik. Tetapi melarang sepeda luar masuk hanya supaya orang menyewa sepeda, menurut saya, kuranglah baik. Saya punya saran, kalau penyelenggara berdalih melarang sepeda luar masuk supaya tidak bikin semrawut, "tukar" sepeda kami dengan sepeda sewaan. Bebaskan biaya. Gratis? Ya!<br /> <br />Saya punya alasan, yakni supaya orang senang bersepeda. "Penukaran gratis" tadi hanya sebagai insentif atas kesadaran itu. Jogja-Borobudur hanya 40 km, dan cukup 2 jam saja mengawil pedal, lewat rute-rute yang asyik, betapa menarik jika ada kebijakan semacam ini. Jogja-Prambanan hanya 15 km (10 km dari bandara), 30 menit menggowes, juga bisa lewat rute perkampungan yang asri, asyik buat penduduk lokal dan wisatawan. Ratu Boko hanya 3 km dr Prambanan, dengan medan yang menantang bagi pendepak sepeda gunung.<br /> <br />Ada banyak alternatif yang bisa dipikirkan. Jangan hanya cari uang dengan sedikit-sedikit bayar. Parkir bayar, masuk bayar, pakai sepeda bayar, nyengklak kereta wisata bayar. Ribet amah! Memang, pengunjung harus ditarik bayaran untuk ongkos mengelola obyek wisata. Namun, kembalikanlah pertukaran uang-tiket itu dalam bentuk pelayanan yang mengesankan. Selain candi yang megah berdiri, yang dapat disentuh (tangible), Borobudur adalah obyek wisata yang menjual jasa intangible, yang hanya bisa dirasakan, yang hanya bisa diceritakan. Niscaya, jika cara-cara seperti ini dilakukan, para pengunjung akan dengan rela hati suka cita super gembira ria menjadi juru warta, menjadi juru kampanye obyek wisata kebanggan bangsa ini.<br /> <br />Kalau tidak, celakalah kita akan stempel buruk yang akan melekat. Satu pengunjung, seperti saya, kecewa, kabarnya bisa ke mana-mana. Apalagi jika yang kecewa pengunjung yang punya media, seperti Johanes Waskita Utama, wartawan olahraga Kompas, yang meninggali komentar di status saya "Sepeda dilarang masuk kawasan Candi Borobudur. Baiklah, saya akan kampanyekan Candi Borobudur sebagai obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi" demikian, "cek ke prambanan juga, le, kayaknya sama aturannya. kalo lagi lomba trus rest di yogya, atlet yg rolling ke prambanan kalo gak salah selalu batal masuk krn gak bisa bawa sepedanya..." Nah lu!<br /> <br />Bersama kami dalam rombongan Gowes Merdeka Jogja-Borobudur tadi ada 2 teman wartawan. Yang satu Wisnu Nugroho (Inu), wartawan Kompas penulis buku bagus yang sedang hangat jadi perbincangan "Pak Beye dan Istananya". Satunya lagi Bambang MBK, wartawan aktivis Aliansi Jurnalis Independen. Belum lagi ada Ugartua Rumahorgo, kepala cabang Penerbit Erlangga. Belum lagi Danu Primanto, fotografer pengelola situs wisata <a href="http://www.tourjogja.com/" rel="external">tourjogja.com</a>. Belum lagi Dedy Kristanto, peneliti di Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma. Belum lagi Anka, yang ibunya mengelola jaringan wisata Ubud-Bali. Belum lagi Andon, Chandra Sena, Sugeng, Bayu, Yuyut, dan teman-teman lulusan dan mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang hidup mereka sudah sangat akrab dengan internet dan jejaring sosial, yang kelak mereka akan jadi orang penting di tempatnya masing-masing....<br /> <br />Hmmm, sengaja saya sebut nama-nama mereka untuk menunjukkan betapa penyuka sepeda saat ini berasal dari kalangan-kalangan yang sejatinya justru bisa jadi pemasar potensial. Kepada mereka saya hembuskan kampanye "Candi Borobudur obyek wisata yang TIDAK ASYIK dikunjungi", terutama oleh pesepeda.<br /> <br />Karena tidak asyik, maka tadi kami memilih untuk melihat Candi Borobudur dari luar, dari kampung sebelah kompleks. Kami berpose di kejauhan, dengan latar belakang Candi Borobudur yang tersohor itu, dengan LATAR DEPAN, sepeda yang kami sohorkan.<br /><br /><strong>AA Kunto A</strong><br /><a href="http://www.aakuntoa.wordpress.com/" rel="external">http://aakuntoa.wordpress.com</a><br />aakuntoa@gmail.com]]></content:encoded></item><item><title>Pakaian yang tak terlalu serius</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Terampil</category><dc:date>2010-02-08T18:37:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/61f837681a51a8781f7041f6205f045a-7.html#unique-entry-id-7</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/61f837681a51a8781f7041f6205f045a-7.html#unique-entry-id-7</guid><content:encoded><![CDATA[<img class="imageStyle" alt="popok" src="http://cyclistreport.org/files/page0_blog_entry7_1.gif" width="243" height="382"/><br /><br /><ol class="arabic-numbers"><li>Helm: agar aman, nyaman dan gaya.</li><li>Kaos katun: mudah menyerap keringat dingin, anti masuk angin.</li><li>Sarung tangan: agar kulit tidak berubah warna, tidak licin dan garang.</li><li>Massenger bag: punya space luas praktis dan tidak mengganggu.</li><li>Celana pendek cargo: dapat menyimpan barang banyak dan praktis.</li><li>Walkman: teman termerdu dalam perjalanan.</li><li>Kantung HP: letak strategis mudah terdengar mudah dijangkau.</li><li>Sandal jepit: praktis, universal.</li></ol><br /><strong>Popok Tri Wahyudi</strong>]]></content:encoded></item><item><title>Membangun sepeda&#x2c; tiada batas&#xa;</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Kisah</category><dc:date>2010-01-15T15:23:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/d886c3a272cba64f3e1d8d4523d183ae-6.html#unique-entry-id-6</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/d886c3a272cba64f3e1d8d4523d183ae-6.html#unique-entry-id-6</guid><content:encoded><![CDATA[Coba tanyakan harga sebuah sepeda kepada Oblo, seorang fotografer yang karyanya sering dipakai kantor berita Reuters. &rdquo;Harga sepeda tidak ada batasnya Mas. Bisa ratusan ribu, bisa ratusan juta,&rdquo; jawab Oblo, &rdquo;Maka, kita bisa membangun sepeda seusai kemampuan dan kebutuhan kita.&rdquo;<br /><br />Oblo menuturkan kisah seorang temannya yang membangun sepeda dengan membeli sebuah sepeda gunung murah beberapa waktu lalu. Sedikit demi sedikit sesuai dengan uang yang dimilikinya, ia mulai mengganti dan menambah ini itu bagi sepedanya.<br /><br />&rdquo;Semula rangka, lalu ganti garpu depan yang memakai rem cakram. Lalu ganti sistem transmisi, lalu ganti sadel dengan yang terbuat dari karbon. Lalu ganti pelek. Dia sudah habis puluhan juta rupiah, dan sepedanya kini sudah tidak mengandung sama sekali sisa sepeda lama. Habis uang banyak, tapi teman saya itu sangat menikmatinya,&rdquo; papar Oblo.<br /><br />Bagi Oblo sendiri, sebuah sepeda yang kini dimilikinya sudah sangat memenuhi segenap kebutuhannya. Ia hanya perlu sebuah kendaraan yang bisa membawanya memotret ke mana pun tanpa rewel, juga masih bisa memuaskan keinginannya akan sebuah benda yang layak disayangi. &rdquo;Seperti juga kamera, sepeda ini salah satu benda kesayangan saya,&rdquo; katanya.<br /><br />Selain Oblo, Tono yang dijumpai di sebuah toko sepeda di kawasan Malioboro, Yogyakarta, akhir Desember lalu, menuturkan bahwa baginya sepeda adalah segala hal yang dipikirkannya.<br /><br />&rdquo;Sudah setahun terakhir, semua pengeluaran saya hanya untuk sepeda,&rdquo; katanya saat membeli sebuah helm sepeda berwarna biru seharga beberapa ratus ribu rupiah.<br /><br />Tono yang baru kuliah di tingkat pertama sebuah perguruan tinggi ini menurutkan pula bahwa orangtuanya kini mendukung penuh kegemarannya ini. &rdquo;Yah, daripada kena narkoba, ortu saya mendukung saya menggemari sepeda,&rdquo; kata Tono.<br /><br /><strong>Pilihan pertama</strong><br /><br />Kalau Anda memutuskan untuk masuk dalam kehidupan dunia bersepeda, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah tentukan pilihan terlebih dahulu. Apakah Anda akan mengutamakan bersepeda sebagai sarana transportasi saja atau bersepeda juga sebagai sarana hobi.<br /><br />Untuk pilihan kedua, bersiaplah untuk membagi setidaknya separuh waktu dan uang Anda untuk sepeda. Jodi, seorang fanatikus sepeda di Jakarta, berlangganan enam majalah tentang sepeda seharga lebih dari tiga ratus ribu rupiah perbulannya. Setiap hari ia membuka internet mencari tahu info terbaru tentang sepeda. Telepon genggamnya berisi nomor-nomor penggemar sepeda yang lain. Setiap keluar negeri, ia pasti membeli peralatan sepeda apa pun bentuknya asal belum dipunyainya.<br /><br />&rdquo;Kalau sudah seneng sepeda. Makan tidur hanya dengan sepeda. Cobalah, maka kamu akan ketularan,&rdquo; kata Jodi.<br /><br /><strong>Arbain Rambey</strong><br /><em>KOMPAS</em>, Minggu, 15 Januari 2006]]></content:encoded></item><item><title>Gunakan nalarmu&#x2c; ganti kendaraanmu</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Biketivism</category><dc:date>2010-01-15T15:16:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/fc9f27d45bf9428c0e97543df21dab5d-5.html#unique-entry-id-5</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/fc9f27d45bf9428c0e97543df21dab5d-5.html#unique-entry-id-5</guid><content:encoded><![CDATA[Kalau Anda buka situs www.cyclistreport.org, maka sebuah sapaan menanti. &rdquo;Upgrade Your Mind, Change Your Vehicle&rdquo;, sebuah banner bergambar sepeda dengan jelas menyampaikan pesan: sepeda adalah alat transportasi yang paling tepat untuk Indonesia masa kini!<br /><br />Kenaikan harga BBM, kemacetan jalanan, polusi udara, aneka kesulitan ekonomi, dan juga aneka penyakit orang modern konon bisa diatasi dengan sepeda. Itu kata beberapa warga Yogya yang menggagas situs internet di atas.<br /><br />Bagi orang-orang itu, sepeda adalah alat transportasi jarak dekat di masa depan. Selain bisa menjadi alat transportasi yang menyehatkan, sepeda juga bisa berfungsi menjadi banyak hal sekaligus seperti barang kesayangan, sarana hobi, atau bahkan barang investasi.<br /><br />Orang-orang itu, antara lain Anton Subianto yang pekerja sosial, Popok Triwahyudi yang seniman, Antariksa yang peneliti, Anto Marianto yang pengurus sebuah LSM anak, serta Oblo yang fotografer, yang kemudian berniat berbuat sesuatu agar ide-ide di atas bisa &rdquo;ditularkan&rdquo; kepada sebanyak mungkin orang, sesegera mungkin.<br /><br />&rdquo;Kalau saja minimal separuh orang Yogya mau mengganti kendaraan mereka dengan sepeda, udara Yogya pasti lebih segar dan jalanan pasti lebih baik suasananya,&rdquo; kata Antariksa yang konsisten ke mana-mana bersepeda.<br /><br />Kelima orang di atas, ditambah beberapa orang lagi, kemudian bersepakat membentuk wadah untuk menularkan ide itu dengan baik. Walau begitu, mereka tidak mau membentuk sebuah lembaga formal.<br /><br />&rdquo;Kalau kami membentuk sebuah lembaga, kami malah takut suatu ketika lembaga ini bubar. Formalitas menurut kami kadang-kadang malah menghambat. Bagi kami, yang penting adalah kegiatannya. Biarlah kami tidak usah bernaung di bawah bendera apa-apa, tapi berbuat dengan jelas dan tanpa pamrih. Kalau mau diberi nama, biarlah kami disebut Komunitas Yogya Kembali Bersepeda,&rdquo; kata Oblo yang diiyakan teman-temannya, &rdquo;Apalagi dulu Yogya terkenal sebagai kota pelajar yang dipenuhi sepeda.&rdquo;<br /><br />Namun, di zaman internet seperti sekarang, sebuah situs dunia maya tentu akan memudahkan banyak hal. Untuk itulah situs www.cyclistreport.org mereka buat. Dari situs itu pula, peminat untuk bersepeda terus meningkat.<br /><br />Pada bulan Desember lalu, misalnya, para penggemar sepeda Yogya mengadakan acara bersepeda bersama ke kompleks Candi Boko. Peta rute dan tempat berkumpul dicantumkan di situs tadi sejak seminggu sebelum hari H. Hasilnya? Ratusan orang bergabung pada hari pelaksanaannya.<br /><br />Kemudian, foto-foto perjalanan itu juga sedikit reportasenya dimuat lagi di situs, maka pada acara berikutnya muncul lagi anggota-anggota baru.<br /><br />&rdquo;Cuma itu yang kami lakukan. Namun itu sangat efektif. Pelan tapi pasti, kami yakin makin banyak orang menggemari sepeda kalau segala kegiatan dibuat menyenangkan,&rdquo; kata Popok, yang memopulerkan slogan Upgrade Your Mind, Change Your Vehicle itu.<br /><br /><strong>Hobi dan investasi</strong><br /><br />Saat ini, jangan dikira bahwa sepeda sulit populer di kalangan anak muda dan kalangan berduit. Sepeda bukanlah benda murahan lagi kini. Tidak percaya? Kini tidak sedikit produsen mobil terkenal pun membuat sepeda seperti BMW dan juga Audi. Harga beberapa sepeda buatan BMW dan Audi lebih mahal daripada harga sebuah sedan Jepang/Korea kelas 1.600 cc.<br /><br />&rdquo;Itulah. Kini sepeda sudah masuk ranah benda bergengsi juga. Maka kami optimis bisa menembus kalangan anak muda dan kalangan ekonomi kelas atas untuk Komunitas Yogya Kembali Bersepeda ini,&rdquo; kata Anton.<br /><br />Di kelompok ini, ada anak orang kaya yang sepedanya berharga puluhan juta rupiah. Ia rajin membeli peralatan sepeda yang aneh-aneh di luar negeri. Bisa dikatakan, sepeda telah menjadi sarana aktualisasi diri sekaligus benda hobi pada orang-orang tertentu.<br /><br />&rdquo;Saya kalau ingin ganti sebuah aksesori sepeda saya, kadang menjual aksesori lama ke teman. Gonta-ganti aksesori sepeda juga sangat kenal musim dan model. Maka kegiatan ini adalah salah satu daya tarik kelompok, Mas,&rdquo; tambah Anton.<br /><br />Sebuah toko peralatan sepeda di kawasan Malioboro pun bisa dikatakan menjadi markas tidak resmi para penggemar sepeda Yogya. Di sana setiap hari terjadi transaksi-transaksi baru, baik dalam bentuk pembelian sepeda baru maupun tukar tambah sepeda lama. Tidak jarang penggemar sepeda tadinya sekadar mampir, tapi saat pulang sudah mengganti sadel sepedanya dengan model terbaru.<br /><br />Dan karena tidak membentuk sebuah kelompok formal, Oblo dan kawan-kawan tidak merasa bersaing dengan komunitas sepeda lain yang mengkhususkan diri pada sepeda tua.<br /><br />&rdquo;Dalam kelompok kami, ada yang pakai sepeda tua, ada yang pakai sepeda gunung seharga Rp 30 juta, juga ada yang pakai sepeda RRC seharga 500.000 rupiah saja. Yang penting mereka sadar bahwa bersepeda itu baik,&rdquo; kata Anton lagi.<br /><br />Walau belum pernah berpikir untuk melebarkan sayap ke kota lain, Komunitas Yogya Kembali Bersepeda optimistis bahwa suatu ketika sepeda akan menjadi raja jalanan di mana pun di Indonesia, bahkan mungkin dunia. &rdquo;Sepeda itu benda terbaik yang pernah dibuat manusia,&rdquo; kata Oblo sambil mengelus-elus sepedanya....<br /><br /><strong>Arbain Rambey<br /></strong><em>KOMPAS</em>, Minggu, 15 Januari 2006]]></content:encoded></item><item><title>Jadikan komunitas Anda ramah sepeda</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Biketivism</category><dc:date>2010-06-01T15:11:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/a1f10a8432cae967062869fba397539f-4.html#unique-entry-id-4</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/a1f10a8432cae967062869fba397539f-4.html#unique-entry-id-4</guid><content:encoded><![CDATA[Anda, bersepeda adalah cara yang baik buat mengisi hari-hari Anda dengan aktivitas fisik. Bersepeda baik bagi lingkungan, dan juga baik buat menghemat isi kantong Anda. Tidak heran jika banyak komunitas (kota, perumahan, atau kampung) di berbagai penjuru dunia mulai mendorong masyarakat untuk lebih sering bersepeda. Beberapa komunitas telah menjadi lebih ramah sepeda ketimbang komunitas lainnya. Bagaimana dengan komunitas Anda?<br /><br />Berikut ini panduan buat memulai perbaikan dan membuat komunitas Anda lebih ramah sepeda. Panduan ini diringkas dari "Bikeability Checklist: How bikeable is your community?" terbitan U.S. Department of Transportation, National Highway Traffic Safety Administration, dan Pedestrian and Bicylce Information Center. Anda bisa mendownload versi aslinya melalui alamat: <a href="http://www.bicyclefriendlycommunity.org" rel="external">http://www.bicyclefriendlycommunity.org</a><br /><br /><strong>1. Tempat Aman buat Bersepeda<br /></strong><br />Masalah pada jalan raya (beraspal): Tak ada ruang bagi pesepeda (misal: tak ada jalur khusus sepeda); Jalur sepeda atau garis pembagi jalan bagi pesepeda hilang/tak terlihat; Tak ada jalur sepeda di jembatan-jembatan atau terowongan; Lalu lintas terlalu padat dan kencang; Terlalu banyak bis dan truk; Penerangan jalan tak memadai.<br /><br />Segera lakukan sendiri: Mulai sekarang, cari dan pilih rute baru; Beritahu pihak yang berwenang dengan penataan jalan tentang masalah yang Anda temui; Temukan orang/kelompok pesepeda yang bisa melatih dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri Anda untuk bersepeda di jalan raya.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Berpartisipasi dalam proses perencanaan transportasi lokal; Mendorong komunitas untuk menerapkan rencana-rencana perbaikan, termasuk dibuatnya jaringan jalur-jalur sepeda di jalan raya; Mendorong pemerintah (pihak berwenang) untuk membuat rambu-rambu "pembagian jalan" (bermotor/tak bermotor) di lokasi-lokasi tertentu; Buatllah (bergabunglah dengan) kelompok advokasi bagi pesepeda.<br /><br />Masalah pada non-jalan raya (jalan tanah atau jalan lain di mana kendaraan bermotor tak diperbolehkan): Kondisi fisik permukaan jalan buruk; Jalur ini tak terhubung dengan jalan raya/tempat yang Anda tuju; Jalur ini terlalu padat; Jalur ini terlalu sulit dilalui (misal: banyak tanjakan dan turunan berbahaya); Tak ada penerangan jalan.<br /><br />Segera lakukan sendiri: Perlambat laju sepeda dan berhati-hatilah; Jangan hilang arah, selalu temukan koneksinya dengan jalan raya utama; Gunakan jalur ini, terutama pada jam-jam padat lalu lintas; Beritahu pihak berwenang tentang masalah yang Anda temui di jalur ini.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Beritahu pihak berwenang untuk membuat atau memperbaiki penunjuk arah dan rambu-rambu di jalur ini; Buatlah petisi kepada pihak berwenang untuk memperbaiki kondisi jalur ini; Doronglah komunitas untuk membuat lebih banyak jalan khusus untuk pesepeda; Buatlah (bergabunglah dengan) kelompok advokasi bagi pesepeda.<br /><br /><strong>2. Kondisi Fisik Permukaan Jalan<br /></strong><br />Masalah: Banyak lubang; Terlalu kasar dan tajam; Terlalu licin manakala basah.<br />Segera lakukan sendiri: Laporkan masalah yang Anda temui kepada pihak berwenang; Berhati-hatilah, selalu perhatikan kondisi jalan; Pilihlah jalur lain hingga jalur yang rusak selesai diperbaiki (catat dan periksalah jika perbaikan telah dilakukan); Ajak dan kumpulkan masyarakat untuk membersihkan dan memperbaiki jalan.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Bekerja sama dengan pihak berwenang dan pekerja sosial untuk membuat standar pelaporan kerusakan jalan; Doronglah pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikan jalan secara berkala (sehingga menjadi lebih ramah sepeda), serta   perbaikan perlintasan kereta api (sehingga sepeda bisa menyeberanginya 90&deg;); Buatlah petisi kepada pihak berwenang untuk menetapkan kebijakan jalur khusus sepeda.<br /><br /><strong>3. Kondisi Perlintasan Jalan<br /></strong><br />Masalah: Harus menunggu terlalu lama untuk menyeberang; Lampu lalu lintas tak terlihat; Lampu lalu lintas berganti terlalu cepat, sehingga tak cukup waktu buat menyeberang; Tidak yakin di mana dan bagaimana cara Anda bisa menyeberang.<br /><br />Segera lakukan sendiri: Mulai sekarang, pilihlah rute lain; Laporkan masalah yang Anda temui kepada pihak berwenang; Temukan orang/kelompok pesepeda yang bisa melatih dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri Anda untuk bersepeda di jalan raya.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Beritahu pihak berwenang untuk memeriksa dan memperbaiki pengaturan waktu lampu lintas pada tempat-tempat tertentu; Mintalah pihak berwenang untuk memasang loop-detector di beberapa tikungan sehingga pengendara kendaraan bermotor bisa melihat keberadaan pesepeda di belakangnya; Doronglah perbaikan rambu dan garis jalan (sehingga pesepeda bisa melintasi jalan dengan lebih aman), serta perbaikan/ pemindahan tempat parkir yang mengganggu pandangan pengemudi akan jalan; Buatlah pelatihan (berskala komunitas) bagi pesepeda tentang bagaimana melintasi jalan-jalan dengan aman.<br /><br /><strong>4. Perilaku Pengguna Jalan<br /></strong><br />Masalah: Pengemudi kendaraan bermotor berkendara terlalu cepat; Jarak kendaraan lain dengan Anda terlalu dekat; Pengemudi kendaraan bermotor sering memotong jalur Anda; Pengemudi kendaraan bermotor tidak menganggap keberadaan Anda (merendahkan pesepeda).<br /><br />Segera lakukan sendiri: Laporkan pengendara yang ugal-ugalan kepada pihak berwenang; Jadilah contoh yang baik: bersepedalah dengan bertanggungjawab, taati rambu lali lintas; Selalu wasapada dengan hal-hal di luar dugaan; Bekerjalah bersama komunitas untuk mendorong penggunaan jalan yang bertanggungjawab.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Doronglah pihak berewenang untuk menetapkan aturan batas kecepatan dan berkendara yang aman; Doronglah pihak berwenang untuk memasukkan materi "pembagian jalan" (bermotor/tak bermotor) dalam ujian SIM; Ajukan gagasan tentang "perlambatan lalu lintas" kepada pihak perencana tata kota; Doronglah komunitas agar mau dan tahu bagaimana mencatat dan melaporkan setiap pelanggar peraturan lalu lintas.<br /><br /><strong>5. Kemudahan Bersepeda</strong><br /><br />Masalah: Tak ada peta dan rambu-rambu yang memudahkan perjalanan Anda; Tak ada tempat aman di mana Anda bisa menetipkan atau meninggalkan sepeda; Tak ada tempat dan cara untuk membawa sepeda Anda di bis atau transportasi umum lain; Sulit sekali menemukan rute terdekat ke tampat yang Anda tuju; Terlalu banyak rute menanjak.<br /><br />Segera lakukan sendiri: Sebelum bersepeda, buatlah perencanaan rute; Carilah tempat yang aman buat menitipkan sepeda. Jangan pernah meninggalkan sepeda tak terkunci; Laporkan hewan pengganggu (misal: anjing galak yang berkeliaran) kepada pihak berwenang; Tingkatkan keterampilan bersepeda. Belajarlah menggunakan seluruh gir.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Doronglah komunitas untuk membuat dan menerbitkan peta bersepeda; Mintalah pihak berwenang untuk membuat tempat parkir sepeda di tempat-tempat penting. Bekerjalah dengan mereka untuk menentukan lokasi-lokasinya; Buatlah petisi kepada perusahaan-perusahaan transportasi umum agar mereka menyediakan rak sepeda pada setiap jenis transportasi umum; Buatlah rencana jaringan jalur sepeda untuk mengurangi rute-rute yang sulit (tanjakan, turunan berbahaya dsb); Buatlah (bergabunglah dengan) kelompok peseda di tempat kerja Anda.<br /><br /><strong>6. Hal-hal yang Membuat Anda bisa Bersepeda dengan Lebih Aman<br /></strong><br />Inilah beberapa hal yang membuat Anda bisa bersepeda lebih aman: Pakailah Helm; Gunakan lampu dan reflector jika bersepeda malam hari; Gunakan pakaian berwarna terang atau yang bisa merefleksikan cahaya; Ketersediaan rambu-rambu bagi peseda; Ketersedian jalur atau garis-garis pembagi jalan bagi pesepeda.<br /><br />Segera lakukan sendiri: Pergilah ke toko sepeda dan belilah helm. Jika Anda juga bersepeda di malam hari, belilah lampu dan reflector ; Selalu patuhi rambu lalu lintas; Temukan orang/kelompok pesepeda yang bisa melatih dan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri Anda untuk bersepeda di jalan raya.<br /><br />Lakukan bersama komunitas: Doronglah pihak berwenang untuk membuat dan menetapkan peraturan bagi pesepeda; Doronglah sekolah-sekolah atau kelompok-kelompok anak muda untuk membuat pelatihan tentang bersepeda yang aman; Buatlah (bergabunglah dengan) kelompok pesepeda; Jadilah instruktur keamanan bersepeda.<br /><br /><strong>Antariksa</strong>]]></content:encoded></item><item><title>Halaman belakang kita</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Esai</category><dc:date>2010-06-02T15:10:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/8db6eb2e2983e11c36a1ab99967601d1-3.html#unique-entry-id-3</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/8db6eb2e2983e11c36a1ab99967601d1-3.html#unique-entry-id-3</guid><content:encoded><![CDATA[Saya kurang tidur. Semalamam saya terlalu asyik menjelajah internet sampai jam 3 pagi dan lupa akan janji pada diri sendiri untuk tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Soalnya adalah saya mengakses internet di kantor teman, jadi mau tidak mau saya dipaksa bangun pagi. Jadilah saya jam 7 pagi sudah harus bangun. Karena kantor teman saya itu, tentu saja, harus segera buka dan beroperasi.<br /><br />Jarak kantor itu dengan rumah saya sekitar 30 km, dan jarak tempuh yang biasa saya lakukan sekitar 45 menit untuk pergi. Tetapi karena ini pulang, berarti bisa lebih cepat sekitar 20 menit atau kurang. Saya tinggal di Yogyakarta, yang secara geografis permukaan tanah di utara (arah gunung Merapi) lebih tinggi daripada permukaan tanah yang di selatan (ke arah Laut Selatan). Memang rumah saya di daerah selatan (Giwangan), dan kantor teman saya tadi ada di utara (Gejayan).<br /><br />Meskipun rute yang saya lalui pagi ini terbilang menurun -dan itu artinya saya bisa menggayuh lebih cepat- tetapi karena kondisi badan agak lemas akibat kurang tidur, maka saya memilih rute alternatif yang lebih sepi. Saya mengambil jalan tembus dari Gejayan &ndash; Nologaten &ndash; Ambarukmo &ndash; Sorowajan - Gedongkuning - Rejowinangun - Kotagede - Giwangan. Pagi-pagi begini, rute ini cukup lengang. Sambil menyemangati diri sendiri, saya pun mengayuh sepeda. Pulang.<br /><br />Seru juga, ternyata kalau dihitung-hitung daerah yang saya lewati ini terbilang dekat dengan pusat kota. Bagi saya, yang disebut kota adalah daerah yang berada di dalam lingkar jalan ring-road. Dan jalan yang saya tempuh ini berada di dalam lingkar ring-road bagian timur. Di daerah ini masih cukup banyak tanah persawahan, meskipun pelan tapi pasti mulai dihimpit pemukiman baru. Daeraj ini juga masih memiliki beberapa jalan tanah yang menembus dan memotong di antara tanah-tanah persawahan. Kalau mau iseng dan cuci mata, sekali-sekali bisa ber-off road ria!<br /><br />Tetapi.. tiba-tiba hati saya jadi sesak. Saya berhenti, menaruh sepeda saya, lalu berdiri memandang. Di pematang sawah, di pojokan tanah kosong, di pinggiran kampung. Sampah berceceran terbungkus kantong-kantong plastik. Sepertinya dengan sengaja dibuang sembarangan. Apa yang dipikirkan orang-orang yang membuang sampah-sampah itu? Apakah mereka tidak punya tempat sampah sendiri? Apakah tak ada pengelolaan sampah kolektif di tempat tinggal mereka? Atau mereka malas untuk ikut iuran sampah?<br /><br />Sampah-sampah ini jelas mencerminkan kelupaan masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah. Ia juga mencerminkan minimnya lahan pembuangan sampah. Atau bisa jadi kita adalah tipe masyarakat pemalu, yang tidak suka kalau diri kita terlihat kotor, sehingga kita menghalalkan pembuangan sampah dimanapun, asal tak di halaman kita sendiri. Asal di depan bersih, kotor di belakang pun tak jadi soal.<br /><br />Benar-benar pagi ini jadi pagi yang buruk bagi saya. Saya jadi marah. Saya teringat sebuah baliho besar di perempatan Gondomanan, sebelah timur kantor pos besar, yang menyerukan bahwa masyarakat Yogyakarta mencintai kebersihan. Kontras sekali kalau dibandingkan dengan apa yang berada di depan mata saya kini.<br /><br />Lalu saya juga jadi sedih, melihat tanah-tanah persawahan yang kian hari kian berkurang dan akan segera berganti menjadi pemukiman atau pertokoan.<br /><br />Dengan hati dongkol, sepeda pun saya kayuh lagi. Rasa kantuk saya langsung hilang. Kalau ada teman bilang dengan bersepeda kita bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas dan detil, memang ada benarnya juga. Dia benar. Pagi ini saya membuktikannya dengan melihat wajah halaman belakang kita yang sebenarnya.<br /><br /><strong>Popok Tri Wahyudi </strong>]]></content:encoded></item><item><title>Tips bersepeda aman di jalan raya</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Terampil</category><dc:date>2010-06-01T15:07:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/ba9dde2a3f889a401c601676c9f2344b-2.html#unique-entry-id-2</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/ba9dde2a3f889a401c601676c9f2344b-2.html#unique-entry-id-2</guid><content:encoded><![CDATA[Berpakaianlah dengan benar &ndash; pakailah helm dan pakaian berwarna terang. Pada musim hujan, gunakan jas hujan yang tidak mengganggu kenyamanan, keseimbangan, dan kendali Anda atas sepeda.<br /><br />Patuhi rambu dan peraturan lalu lintas &ndash; tak ada bedanya dengan pengguna jalan yang lain, pesepeda mesti mematuhi rambu dan perturan lalu lintas. Jika kita sendiri tak tertib, bagaimana kita bisa menuntut pengguna jalan lain untuk berperilaku tertib?<br /><br />Jangan pernah bersepeda melawan arus jalan &ndash; pengemudi kendaraan bermotor tak akan memerhatikan sepeda yang melaju di jalur jalan yang salah. Hukum dan akal sehat mengharuskan pesepeda menggunakan jalan seperti pengemudi kendaraan lainnya.<br /><br />Jangan memakai headphone (earphone) &ndash; pakailah helm, jangan menggunakan piranti headphone (dari walkman maupun handphone ). Menurut penelitian, telinga yang tertutup rapat bisa mengurangi keawasan pesepeda pada keadaan sekelilingnya.<br /><br />Siapkan kedua tangan untuk mengerem &ndash; Anda mungkin tak bisa langsung berhenti jika mengerem hanya dengan satu tangan. Jangan bersepeda terlalu dekat di belakang kendaraan lain, dan pada musim hujan selalu siapkan jarak aman pengereman karena rem selalu menurun efisiensinya manakala basah.<br /><br />Perhatikan jalan di samping dan belakang Anda &ndash; belajarlah memindai keadaan jalan di samping dan di belakang Anda tanpa harus kehilangan keseimbangan dan kendali Anda pada sepeda.<br /><br />Jangan menyalip dari kiri &ndash; pengemudi kendaraan bermotor biasanya tidak akan menduga kalau ada sepeda yang menyalip dari kiri, sehingga mereka juga tak siap dengan situasi terburuk yang muncul dari keadaan ini.<br /><br />Jangan melewati garis pembatas jalan &ndash; manakala menyalip, pastikan Anda tidak melewati garis pembatas jalan. Demikan halnya manakala lalu lintas dalam keadaan padat.<br /><br />Gunakan lampu di malam hari &ndash; selain membantu Anda buat melihat arah dan kondisi jalan, lampu membantu pengemudi kendaraan lain di depan untuk melihat keberadaan Anda. Tambahkan juga lampu di bagian belakang sepeda, atau sekurang-kurangnya reflektor.<br /><br />Gunakan tangan Anda untuk memberi tanda &ndash; gunakan tangan untuk memberi tanda kepada pengguna jalan lain tentang ke arah mana Anda akan melaju. Ini memang aturan tak tertulis bagi pengguna sepeda, tetapi penting bagi keamanan Anda sendiri.<br /><br />Rawat dan jagalah kondisi sepeda Anda &ndash; lakukan perawatan rutin sehingga sepeda Anda bisa berjalan dengan aman dan nyaman. Gantilah rem dan ban secara berkala. Merawat sepeda itu mudah, Anda bisa belajar dan melakukannya sendiri.<br /><br /><strong>Antariksa</strong>]]></content:encoded></item><item><title>Bersepeda bersama bayi</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Terampil</category><dc:date>2010-06-01T15:03:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/e0cd9044396c64e99e5520c28ae35ad3-1.html#unique-entry-id-1</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/e0cd9044396c64e99e5520c28ae35ad3-1.html#unique-entry-id-1</guid><content:encoded><![CDATA[Ketika saya terpaksa harus vakum bersepeda karena mengandung anak pertama, sedih juga rasanya. Tentu saja aktivitas bersepeda termasuk yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil, terlebih untuk kehamilan bermasalah. Saya termasuk kategori ini; pemeriksaan menunjukkan ari-ari janin saya menutupi jalan lahir (istilah medisnya: placenta previa). Kondisi ini rentan akan pendarahan. Maka, demi kebaikan diri saya dan janin, saya harus ekstra hati-hati menjaga kondisi badan.<br /><br />Agak ngiri juga ketika dengar cerita teman-teman yang selalu bawa oleh-oleh cerita tentang perjalanan mereka. Dalam hati, "Kalau anak saya lahir dan sudah cukup besar, saya pasti akan bawa anak saya cross country juga." Tapi pertanyaannya kemudian, model tumpangan anak batita (bawah tiga tahun) seperti apa yang baik dan aman untuk turut bersepeda bersama orang-orang dewasa ini?<br /><br />Saya pun mencoba mencari jawabnya. Sejauh pengalaman saya, ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:<br /><br /><strong>Gendongan anak berupa ransel<br /></strong><br />Kelebihannya: posisi anak aman, terutama karena posisinya yang hampir bisa dikatakan "melekat" pada pengendara sepeda. Si pengendara bisa mengontrol dan selalu bisa merasakan "alarm dini" jika si anak dalam posisi yang membahayakan, misalnya jika si anak meronta karena ketidaknyamanan letak dudukannya atau ketidaknyamanan lain yang ia rasakan. Faktor keamanan lain adalah tersedianya sabuk pengaman di dalam kompartemen ransel anak itu. Sabuk pengaman biasanya ada dua; pertama, yang menahan pinggul atau pinggang anak (menyerupai sistem seat belt di kendaraan roda empat pada umumnya); kedua, yang menahan tubuh bagian depan anak. Sabuk kedua akan mengalungi anak dari bagian atas kepala ke arah tubuh depannya (tujuan titik perlindungan adalah kedua bahu dan dada). Buckle (kunci klip) terdapat di bagian perut. Karena faktor kelekatan sebagaimana disebut di atas, guncangan yang dirasakan anak akan terlebih dahulu diminamilisir oleh pengendara sepeda, semacam self-control dari pengendara sepeda. Di sisi lain, respon si anak akan cenderung menyelaraskan gerakan yang ditimbulkan pengendara sepeda. Situasi ini juga akan merangsang kepekaan anak pada keseimbangan tubuhnya sendiri.<br /><br />Kekurangannya: tidak nyaman bagi si pengendara sepeda jika jarak tempuh cukup jauh, karena seluruh beban anak bertumpu padanya. Walaupun sesungguhnya ransel semacam ini sudah dirancang agar pembagian titik beban bisa disesuaikan, tidak terpusat pada satu titik saja; misalnya dengan mengencangkan sabuk di bagian pinggang agar beban di bahu kiri dan kanan berkurang. Sedikit mengurangi keleluasaan si pengendara sepeda untuk melakukan manuver. Tentu karena si anak dapat kapan saja merasa kegirangan dan melonjak-melonjak apabila sepeda melalui jalan yang berguncang atau rute sliding /menurun. Respon anak dapat mudah sekali mempengaruhi kestabilan berkendara. Di awal -atau malah sepanjang- perjalanan, si anak akan sangat merasa ingin tahu keadaan sekitar, termasuk pemandangan di muka. Jika pengendara sepeda yang menggendongnya dirasa menutupi pandangan, secara otomatis ia akan berusaha dengan memiringkan badannya, hingga mencapai sudut yang paling ekstrem. Hal ini potensial membahayakan dirinya dan si pengendara.<br /><br /><strong>Boncengan sepeda</strong><br /><br />Ini pun ada dua opsi, apakah Anda ingin meletakkan boncengan di depan atau di belakang Anda. Kelebihan boncengan sepeda di depan pengendara: anak dapat leluasa melihat jalur sepeda dan pemandangan di hadapannya. Si pengendara sepeda lebih merasa tenang karena si anak selalu dalam pengawasannya. Kekurangannya: posisi anak akan sedikit mengurangi keleluasaan pengendara sepeda.<br /><br />Kelebihan boncengan sepeda di belakang pengendara: si pengendara akan leluasa mengontrol dan menguasai stang. Meminimalisasi paparan alam (misalnya angin, hujan, ataupun sinar) yang langsung mengenai anak. Diharapkan segala paparan itu akan terlebih dulu mengenai pengendarai sepeda. Komunikasi antara pengendara dan anak dapat terjalin lebih intens, karena kontak mata, kontak lisan, dan kontak ekspresi dapat lebih mudah dilakukan. Misalnya ketika ada obyek tertentu yang sedang diobrolkan.<br /><br />Kekurangannya: si pengendara tidak leluasa mengawasi si anak. Bisa jadi anak terlelap, kelilipan (renik memasuki matanya), atau hal lainnya terjadi, dan pengendara tidak bisa mengetahuinya saat itu juga. Komunikasi antara pengendara dan anak kurang terjalin secara intens. Bisa saja toh si pengendara bicara panjang lebar, kok ya ternyata si anak tertidur pulas!! Duh...<br /><br />Well, pilihan terpulang pada kenyamanan Anda. Omong-omong, kalau ada pertimbangan dan pilihan tandem yang lain, bisa dong bagi-bagi info....<br /><br /><strong>Aisyah Hilal</strong><br /><em>Ibu satu anak berumur 11 bulan</em>]]></content:encoded></item><item><title>Menyusuri Code&#x2c; melawan bis kota</title><dc:creator>cyclistreport.org</dc:creator><category>Perjalanan</category><dc:date>2010-06-02T14:59:00+07:00</dc:date><link>http://cyclistreport.org/files/f12b953c3e3877b079dcc560969a743f-0.html#unique-entry-id-0</link><guid isPermaLink="true">http://cyclistreport.org/files/f12b953c3e3877b079dcc560969a743f-0.html#unique-entry-id-0</guid><content:encoded><![CDATA[Bersepeda di belakang bis kota? Jelas tidak menyenangkan dan tentunya tidak menyehatkan. Tahu kenapa? Berapa jumlah karbon monoksida yang dihasilkan dalam sekali tancapan gas? Pasti wajah dijamin akan cepat menghitam kalau posisi kita ketika bersepeda berdekatan dengan bis kota. Ini adalah masalah kita, pesepeda pada rute perkotaan. Apakah kita akan selalu memakai masker gas untuk menghadapinya? Jangan takut dulu. Tarik nafas sebentar, pelan... kita akan menemukan solusinya. Tidak percaya?<br /><br />Beberapa teman calon pesepeda sejati (yang dengan kesadaran penuh dan bertanggung jawab memilih sepeda sebagai alat transportasi seutuhnya) pernah bertanya, bagaimana strategi jitu menghadapi sebuah bis kota ketika bersepeda? Melihat ini kita seperti dihadapkan pada musuh yang mustahil dikalahkan. Dijalan- jalan kota dimanapun ketika bertemu dengan kendaraan semacam ini. Tentunya kita tidak punya kemampuan untuk menghadapinya, kalau ini permasalahan kalah dan menang. Ini bukan tentang kalah dan menang. Kalau iyapun kita seperti seekor semut melawan gajah. Tidak mungkin akan terjadi.<br /><br />Kita tidak harus menjadi pesimis melihat ini. Cari mudahnya saja, kita menghindar kalau bertemu dengan makhluk ini apalagi kalau mereka dalam keadaan mengejar setoran yang performanya bisa sangat ugal- ugalan. Banyak kok jalan alternatif yang dapat mengantikan jalan yang mulus dijalan besar tadi. Memang lebih kecil mungkin juga tidak mulus tetapi dibalik ini akan menawarkan sebuah tantangan untuk dieksploitasi. Dan saya jamin kalian akan menemukan sebuah surga tersendiri yang tidak semua kendaraan bisa melewatinya kecuali dengan sebuah sepeda.<br /><br />Oke saya akan bercerita sedikit tentang perlawanan dengan makhluk bis ini. Sebenarnya ini pengalaman lama yang tertunda terus untuk diceritakan kembali. Dan juga makhluk bis tadi bagi saya pribadi, tidak begitu masalah dan tidak perlu menjadikannya sebagai musuh. Malah saya jadikan teman kalau kaki ini benar- benar capek ketika menggayuh sepeda, saya bisa menumpanginya.. tentunya ya bis kota tadi. Meskipun bis kota kita dalam hal ini yang berada di Indonesia. Tidak semuanya welcome dengan para pesepeda. Bis kota kita tidak spesifik dirancang untuk mengangkut penggunanya yang membawa sepeda. Tapi di rute-rute sepi mereka akan welcome asal penumpangnya tidak begitu penuh, lihat saja bis-bis kota kecil di pinggiran daerah perkotaan.<br /><br />Saya tidak bercerita bagaimana trik naik bis dengan membawa sepeda. Tetapi bercerita bagaimana serunya melewati jalan kecil untuk menghindari bertemu dengan bis kota. Siang itu saya berdua dengan seorang teman, Antok namanya. Hendak bersepeda untuk mengurus pekerjaan kecil didaerah utara Jogja. Kami bertempat tinggal didaerah selatan dan kebetulan berdekatan. Hari itu kami janjian untuk bersepeda bareng. Maksud kami sih bisa bersepeda dipagi hari tetapi karena sama- sama tidak bisa bangun pagi. Jadinya kami bersepedanya kesiangan. Kami berangkatnya waktu itu sekitar jam 11 siang. Kalau sudah jam seperti itu tantangan yang ada dijalan yang kita akan temui adalah.. pastinya hiruk pikuknya jalan, panasnya matahari dan tentunya asap bis kota.<br /><br />Dengan isengnya kita sama-sama berpikir bagaimana kalau kita melewati daerah pinggiran sungai? Bagi saya, kenapa tidak? Toh rute itu belum pernah kita coba dan kita tidak tahu seberapa jauh rute itu dapat kita lewati. Akhirnya kita sepakat untuk memilih rute itu. Di Yogyakarta, ada 3 sungai besar yang melewati daerah kota. Yaitu kali Winongo, Kali Code dan kali Gajah Wong. Dari ketiganya dan sepengetahuan kita, akhirnya kita memilih kali Code dan kebetulan juga posisi kita start bersepeda terletak didekat sungai ini yaitu dijalan Sisingamaraja dekat pasar telo. Kita bersepada sebentar ke arah utara melewati jalan itu kemudian sampai di pertigaan jalan Kolonel Sugiono. Dari pertigaan tadi kita turun mendekati kawasan pinggiran sungai Code dan ini masuk daerah kecamatan Mergangsan.<br /><br />Setelah melewati jalan kampung, di sini awas banyak anak kecil berseliweran menyeberang jalan dan hati- hati banyak polisi tidur. Bisa satu polisi tidur memiliki 2 atau 3 gundukan. Ini di daerah Bujokusuman, kemudian Kerapan kidul ketika mendekati pinggiran sungai dan kita menelusurinya setelah sampai dipintu air Surokarsan. Mulai dari pintu air ini kita belok ke kiri ada jalan kecil berarti kita bersepeda diposisi sebelah barat sungai . Ini sebenarnya teras kecil dari pinggir kali Code yang sudah disemen dan dijadikan jalan kecil dan mungkin juga sudah merangkap sebagai halaman bagi rumah- rumah disebelahnya. Dan bagi rumah- rumah di kiri kanan kali Code. Jadi jangan kaget di sini pengertian jalan sudah menjadi kabur. Jangan malu kalau melewati kerumunan penduduk sekitar untuk menyapa dengan kata permisi. Perlu diingat mereka yang menjadi tuannya, kita hanyalah musafir pesepeda yang kebetulan dengan rasa iseng tinggi sedang melewati halaman rumahnya.<br /><br />Dari daerah Surokarsan ini kita bersepeda terus kearah utara, pokoknya kali ini perjalanan kami pedomannya ke utara tidak peduli jalan itu berbelok-belok. sampai kemudian kita dibawah jembatan dijalan Sultan Agung. Dipinggir   kaki jembatan itu masih ada jalan, kita masih bisa melewatinya tanpa harus naik kepermukaan jalan besar. Ini masuk daerah Jagalan beji- Jagalan Ledok Sari masuk kelurahan Suryatmajan kecamatan Pakualaman. Masih ada jalan yang bisa dilewati sesekali pelan dengan menjaga keseimbangan dan butuh kemampuan handling yang tinggi. Kita masih bisa meneruskan perjalanan. Kalau bertemu dengan pejalan kaki atau kendaraan lain yang datangnya berlawanan arah, tentunya kita berhenti sejenak untuk saling melewati. Sekali lagi jangan lupa bilang &ldquo;permisi atau nyuwun sewu&rdquo; ketika dikiri- kanan jalan anda ada bapak- bapak atau ibu- ibu sedang duduk atau mencuci baju.<br /><br />Kemudian kita bertemu lagi dengan jembatan Juminahan masih bisa dilewati. Setelah jembatan ini kita akan menjumpai RUSUNAWA (Rumah Susun Sewa) yang konon katanya rumah susun percontohan untuk pemukiman warga di sekitar daerah pinggir kali Code. Berarti kita ada di kawasan kecamatan Danurejan kelurahan Tegal Panggung. Sampai di titik jembatan jalan Mas Suharto, Tukangan,.. buntu! Berarti kita permukaan yaitu keatas menuju jalan besar. Kami muncul di antara deretan pertokoan di jalan Mayor Suryotomo. Kemudian belok ke kanan ke arah Jembatang Tukangan yang kita lihat dari bawah tadi. Kemudian belok kekiri dan menuju ke bawah ke daerah pinggiran Kali Code kembali.<br /><br />Masih kearah utara kami terus bersepeda sampai dijembatan Kewek, dititik ini kamipun kembali lagi balik kearah jalan besar. Karena arah sungai berbelok kekanan dan tidak ada lagi jalan yang bisa dilewati oleh kami. Pinggiran sungainya sudah semakin curam jadi riskan kalau kami meneruskannya. Kami muncul di jalan Mataram belakang Hotel Garuda, kemudian menyeberang melewati taman parkir Abu Bakar Ali, melawan arus kemudian turun lagi ke arah sungai kembali. Ini masuk kelurahan Kota baru, sebelum muncul lagi ke jalan Jendral Sudirman, tidak salahnya kita berhenti sejenak melihat area hasil penataan atau kreasi dari karya seorang arsitek, Seorang Romo Mangun, yang bisa merubah anggapan, bahwa selama ini masyarakat kita melihat sungai adalah sesuatu yang harus di belakangi, tetapi oleh beliau hal itu dirubah. Bagaimana sungai itu jadi halaman depan kita, dengan ditata dan dibangun prasarana yang mendukung dengan bagus. Wajah sungai kita sudah berubah. Dikawasan ini kita bisa melihat daerah urban untuk ukuran Jogja. Saya dan Antok cukup terkesima juga. Jelas wajah ini berbeda dengan kawasan urban dikota- kota lain apalagi seperti di Jakarta. Sambil meminum air bawaan kita dan memakan camilan, kami merasa sedikit terhibur. Kami bersyukur telah memiliki seorang arsitek yang dengan kepekaan sosial yang luar biasa.<br /><br />Jam sudah menunjukan pukul 12.00 siang, memang siang ini matahari bersinar dengan teriknya. Air minum bawaan kami sudah mulai menipis dan perut sudah mulai keroncongan. Berarti setelah menyeberang jalan Jenderal Sudirman kami harus secepatnay mencari warung makan. Energi kami sudah memulai menipis, tetapi untung saja pilihan rute kali ini tepat. Karena kawasan pinggir sungai Code masih banyak pepohonan, jadinya dingin apalagi didukung dengan terpaan angin, semakin sejuk. Kalau kami berdua tidak bersepeda tentunya sudah tidur dari tadi. Lihat saja para penduduk disekitar sungai, kalau sedang nongkrong dijam seperti ini, dijamin mereka akan tertidur seharian. Memang benar- benar nyaman sekali.<br /><br />Kami sudah sampai didaerah kelurahan Catur Tunggal masuk kecamatan Depok. Kalau lewat jalan besar, posisi kami sejajar dengan jalan AM Sangaji. Ya sekali lagi jalan didepan kami terputus, rupanya alur sungai berbelok tajam dan arusnya cukup kuat sehingga bantaran sungai yang ada tergerus air, apakah harus balik? Tentu tidak sepeda masih bisa diangkat dan dipanggul. Bukan masalah besar, ini untungnya kalau kita memakai sepeda. Akhirnya kita sampai dijalan besar, masih dijalan AM Sangaji. Pas dimulut gang dari arah sungai ada warung makan. Akhirnya perut kami yang keroncongan sudah menemukan jawabannya. Setelah 2 mangkok mie ayam kita habiskan dan minum beberapa gelas es jeruk. Energi kami sudah pulih kembali, ingat adanya pekerjaan yang harus kami selesaikan hari ini. Well show must go on! Tidak peduli hari masih panas perjalanan kami lanjutkan kembali.<br /><br />Kami masih penasaran dengan rute pinggiran Kali Code tadi, apalagi melihat panas siang ini. Sepeda kami kayuh lagi dan kami belokan kearah sungai kembali. Di pinggir kali Code yang masuk daerah Blimbing sari ini, sedikit berbeda dengan daerah sebelumnya. Disini jalannya lebih lebar dan dikonblok lebih rapi. Sepertinya sudah direncanakan dan di tata lebih rapi. Apalagi kalau kita melihat disebelah kiri. Ada beberapa bangunan kecil untuk bercengkrama menikmati pemandangan sekitar. Saya masih berpikir area ini siapa yang menciptakan dan untuk siapa?. Terasa tidak dirawat dan dibiarkan rusak apalagi dilerengnya masih banyak sampah yang menumpuk tidak dibersihkan. Sayang kalau melihat pemandangan sungai yangai sudah indah kemudian ada fasilitas bangunan yang mendukung tetapi dibiarkan tidak dipakai dan tidak dirawat. Kalau tempat ini dikelola dengan baik tentu bisa jadi aset wisata untuk masyarakat kota.<br /><br />Kembali lagi perjalanan kami tidak bisa lancar dan berjalan lurus diposisi kiri sungai. Kali ini kita harus menyeberang kea rah kanan sungai. Untung saja, ada bendungan sungai yang airnya agak dangkal sehingga memungkinkan kami untuk menyeberang. Ketika menyeberanginya kita tidak memanggul sepeda lagi tapi langsung saja mengayuh. Seru juga, kalau tidak hati- hati dan tidak pintar mengimbangi diri kita bisa saja jatuh kearah sungai yang lebih dalam. Rute sebelah kanan Kali Code tidak jauh berbeda masih sama. Masih terlihat ada bantaran sungai yang bisa dilewati, cuek saja kami terus menggayuh sepeda kami lurus kearah utara. Dengan mengikuti bantaran sungai ini sampai akhirnya mentok, berhenti sama sekali dan tidak bisa dilewati untuk bersepeda. Kami akhirnya berhenti, kalau kami meneruskan kembali dibantaran itu tentu pilihannya hanya satu yaitu berenang. Jelas kalu itu kami pilih, kami bukan pesepeda dong!<br /><br />Itu tadi cerita dari saya dan Antok, ketika iseng untuk menghindari teriknya panas matahari dan untuk menghindari bersepeda bareng dengan bis kota. Seru dan menantang, kita harus cepat berpikir untuk memutuskan antara terus menggayuh sepeda, berhenti, memanggul, menuntun atau mungkin berenang. Perjalanan ini seperti perjalanan di dunia bawah, sekali waktu kita naik untuk melihat dunia atas, yang saya maksud jalan besar seperti biasa yang sering kita lewati. Tidak ada salahnya sesekali kita berubah menjadi atlet triathlon, dengan lari, bersepeda dan kemudian berenang. Kami pikir rute ini adalah jalur sutera di antara belantara kota. Kita semacam menemukan oase di gurun pasir yang memiliki keasyikannya sendiri.dapat menjadi jawaban dari ketakutan kita akan polusi dari bis kota dan hitamnya kulit tersengat oleh matahari.Dan yang pasti, rute ini mendidik kita untuk menjadi manusia yang santun, pandai menempatkan diri, mudah bersosialisasi dan peduli dengan lingkungan sekitar. Penasaran atau tidak percaya? Try it!<br /><br /><strong>Popok Tri Wahyudi</strong> ]]></content:encoded></item></channel>
</rss>
