PERJALANAN

Lovely Imogiri

Satu hari menjelang Ramadhan, kami berempat -saya, Oblo, Popok, dan Agung- memanfaatkan siang terakhir untuk bersepeda ke Imogiri; tidak untuk nyadran, tetapi untuk memberi hormat kepada titik lokasi Agung jatuh dan terkilir beberapa minggu sebelumnya. Sebagai tim kecil yang (selalu berupaya untuk) solid, kami tentu saja tidak ragu untuk menemani Agung melakukan napak tilas atas pengalaman pahitnya.

Jam 6.00 kami bertolak dari kota. Minggu pagi, seperti biasa, terasa lebih menyenangkan dibanding enam hari lainnya karena jalanan terasa jauh lebih lengang. Terlebih lagi ketika kami mulai semakin masuk ke daerah perkampungan, aktivitas rural menjadi pemandangan sepanjang jalan: beberapa laki dan perempuan di sawah, menanam padi, membersihkan gulma, memperbaiki saluran air, membenahi orang-orangan sawah. Sesaat rasanya diri ini terlahir lagi sebagai manusia-manusia sederhana, merasakan jeda dari rutinitas bekerja dengan berbagai perangkat mekanik: komputer, mesin fax, telepon, dan sebagainya.

Kami berempat bersepakat untuk terus menyusuri perkampungan, dan sebisa mungkin menghindari jalan aspal. Bermodalkan "kompas kayaknya" (kayaknya sih habis ini kita ke kanan, atau kayaknya sih lurus asyik deh!), kami merambah berbagai medan, mulai dari sawah habis panen, pematang sempit, bantaran kali, rerimbunan semak dan ladang pisang, belantara bambu, jembatan gantung (yang cukup menegangkan ketika melaluinya) hingga bagian belakang rumah-rumah warga kampung. Rute yang kami lewati sangat menyenangkan, dan lebih menyenangkan lagi ketika menjawab, "Kami mau cari jalan tanah kok Pak, Bu!", untuk menanggapi saran beberapa warga kampung yang mengarahkan kami ke jalan besar/jalan aspal.

Kami pun hanya bisa tersenyum lebar ketika seorang ibu di pelataran dapurnya berseru, "Kok ya ngerti jalan yang mblusuk-mblusuk gini tho??!" waktu kami melewatinya dan mengucap permisi. Prinsip no asking for direction pun tetap kami pegang. Jadi, ketika ada seorang lelaki yang memberitahu tanpa kami minta bahwa kami menuju jalan buntu, kami hanya mengucapkan terima kasih tanpa berbalik. Kami lebih memilih berbelok ke kiri atau ke kanan. Dalam hati kami cuma bisa berseloroh pada diri sendiri: dasar ja'im!!

Kurang lebih setelah tiga jam mengayuh di atas sadel sepeda, kami tiba di terminal Imogiri, tempat beberapa warung sudah siap menerima order: teh jahe, jahe panas, atau wedhang sampah (teh yang dicampur dengan beberapa helai daun seukuran daun sawo. Hanya Tuhan yang tahu khasiatnya!). Beberapa pilihan jajanan juga sudah siap disantap: caranggesing (sungguh luar biasa sedapnya!), pecel, telur brongkos, dan lainnya. Beberapa saat kami istirahat di sini, sambil membantu Popok menambal salah satu ban-nya yang bocor.

Kami bertemu dengan seorang teman yang datang dari kota Jogja (hanya) untuk sarapan bersama istri dan tiga anaknya di warung tempat kami beristirahat. Darinya kami diberi tahu rute yang menurutnya menarik untuk dicoba. Kami pun terus berangkat menuju pulang. Pada satu titik menjelang jalan aspal, Popok dan Oblo tiba-tiba berseru, "Itu dia tempat jatuhmu, Gung!!". Yang diajak bicara hanya tersipu malu sambil (tentu saja) memaki.

Dalam perjalanan pulang, Popok, Agung, dan Oblo -yang sebelumnya pernah ke Imogiri- sibuk mendiskusikan keterkejutan mereka ketika tahu ternyata wilayah Imogiri sangat terbuka untuk dieksplorasi dari banyak sisi; begitu banyak alternatif rute yang bisa dicoba, dan kami sangat bersemangat untuk datang lagi ke sini lain kali.


Aisyah Hilal
10.03

 

 
  Home | About Us | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 cyclistreport.org