![]() ![]() |
|||
|
PERJALANAN Menyusuri Code, Melawan Bis Kota Bersepeda di belakang bis kota? Jelas tidak menyenangkan dan tentunya tidak menyehatkan. Tahu kenapa? Berapa jumlah karbon monoksida yang dihasilkan dalam sekali tancapan gas? Pasti wajah dijamin akan cepat menghitam kalau posisi kita ketika bersepeda berdekatan dengan bis kota. Ini adalah masalah kita, pesepeda pada rute perkotaan. Apakah kita akan selalu memakai masker gas untuk menghadapinya? Jangan takut dulu. Tarik nafas sebentar, pelan... kita akan menemukan solusinya. Tidak percaya? Beberapa teman calon pesepeda sejati (yang dengan kesadaran penuh dan bertanggung jawab memilih sepeda sebagai alat transportasi seutuhnya) pernah bertanya, bagaimana strategi jitu menghadapi sebuah bis kota ketika bersepeda? Melihat ini kita seperti dihadapkan pada musuh yang mustahil dikalahkan. Dijalan- jalan kota dimanapun ketika bertemu dengan kendaraan semacam ini. Tentunya kita tidak punya kemampuan untuk menghadapinya, kalau ini permasalahan kalah dan menang. Ini bukan tentang kalah dan menang. Kalau iyapun kita seperti seekor semut melawan gajah. Tidak mungkin akan terjadi.
Oke saya akan bercerita sedikit tentang perlawanan dengan makhluk bis ini. Sebenarnya ini pengalaman lama yang tertunda terus untuk diceritakan kembali. Dan juga makhluk bis tadi bagi saya pribadi, tidak begitu masalah dan tidak perlu menjadikannya sebagai musuh. Malah saya jadikan teman kalau kaki ini benar- benar capek ketika menggayuh sepeda, saya bisa menumpanginya.. tentunya ya bis kota tadi. Meskipun bis kota kita dalam hal ini yang berada di Indonesia. Tidak semuanya welcome dengan para pesepeda. Bis kota kita tidak spesifik dirancang untuk mengangkut penggunanya yang membawa sepeda. Tapi di rute- rute sepi mereka akan welcome asal penumpangnya tidak begitu penuh, lihat saja bis-bis kota kecil di pinggiran daerah perkotaan. Saya tidak bercerita bagaimana trik naik bis dengan membawa sepeda. Tetapi bercerita bagaimana serunya melewati jalan kecil untuk menghindari bertemu dengan bis kota. Siang itu saya berdua dengan seorang teman, Antok namanya. Hendak bersepeda untuk mengurus pekerjaan kecil didaerah utara Jogja. Kami bertempat tinggal didaerah selatan dan kebetulan berdekatan. Hari itu kami janjian untuk bersepeda bareng. Maksud kami sih bisa bersepeda dipagi hari tetapi karena sama- sama tidak bisa bangun pagi. Jadinya kami bersepedanya kesiangan. Kami berangkatnya waktu itu sekitar jam 11 siang. Kalau sudah jam seperti itu tantangan yang ada dijalan yang kita akan temui adalah.. pastinya hiruk pikuknya jalan, panasnya matahari dan tentunya asap bis kota. Dengan isengnya kita sama-sama berpikir bagaimana kalau kita melewati daerah pinggiran sungai? Bagi saya, kenapa tidak? Toh rute itu belum pernah kita coba dan kita tidak tahu seberapa jauh rute itu dapat kita lewati. Akhirnya kita sepakat untuk memilih rute itu. Di Yogyakarta, ada 3 sungai besar yang melewati daerah kota. Yaitu kali Winongo, Kali Code dan kali Gajah Wong. Dari ketiganya dan sepengetahuan kita, akhirnya kita memilih kali Code dan kebetulan juga posisi kita start bersepeda terletak didekat sungai ini yaitu dijalan Sisingamaraja dekat pasar telo. Kita bersepada sebentar ke arah utara melewati jalan itu kemudian sampai di pertigaan jalan Kolonel Sugiono. Dari pertigaan tadi kita turun mendekati kawasan pinggiran sungai Code dan ini masuk daerah kecamatan Mergansan.
Dari daerah Surokarsan ini kita bersepeda terus kearah utara, pokoknya kali ini perjalanan kami pedomannya ke utara tidak peduli jalan itu berbelok-belok. sampai kemudian kita dibawah jembatan dijalan Sultan Agung. Dipinggir kaki jembatan itu masih ada jalan, kita masih bisa melewatinya tanpa harus naik kepermukaan jalan besar. Ini masuk daerah Jagalan beji- Jagalan Ledok Sari masuk kelurahan Suryatmajan kecamatan Pakualaman. Masih ada jalan yang bisa dilewati sesekali pelan dengan menjaga keseimbangan dan butuh kemampuan handling yang tinggi. Kita masih bisa meneruskan perjalanan. Kalau bertemu dengan pejalan kaki atau kendaraan lain yang datangnya berlawanan arah, tentunya kita berhenti sejenak untuk saling melewati. Sekali lagi jangan lupa bilang “permisi atau nyuwun sewu” ketika dikiri- kanan jalan anda ada bapak- bapak atau ibu- ibu sedang duduk atau mencuci baju. Kemudian kita bertemu lagi dengan jembatan Juminahan masih bisa dilewati. Setelah jembatan ini kita akan menjumpai RUSUNAWA (Rumah Susun Sewa) yang konon katanya rumah susun percontohan untuk pemukiman warga di sekitar daerah pinggir kali Code. Berarti kita ada di kawasan kecamatan Danurejan kelurahan Tegal Panggung. Sampai di titik jembatan jalan Mas Suharto, Tukangan,.. buntu! Berarti kita permukaan yaitu keatas menuju jalan besar. Kami muncul di antara deretan pertokoan di jalan Mayor Suryotomo. Kemudian belok ke kanan ke arah Jembatang Tukangan yang kita lihat dari bawah tadi. Kemudian belok kekiri dan menuju ke bawah ke daerah pinggiran Kali Code kembali. Masih kearah utara kami terus bersepeda sampai dijembatan Kewek, dititik ini kamipun kembali lagi balik kearah jalan besar. Karena arah sungai berbelok kekanan dan tidak ada lagi jalan yang bisa dilewati oleh kami. Pinggiran sungainya sudah semakin curam jadi riskan kalau kami meneruskannya. Kami muncul di jalan Mataram belakang Hotel Garuda, kemudian menyeberang melewati taman parkir Abu Bakar Ali, melawan arus kemudian turun lagi ke arah sungai kembali. Ini masuk kelurahan Kota baru, sebelum muncul lagi ke jalan Jendral Sudirman, tidak salahnya kita berhenti sejenak melihat area hasil penataan atau kreasi dari karya seorang arsitek, Seorang Romo Mangun, yang bisa merubah anggapan, bahwa selama ini masyarakat kita melihat sungai adalah sesuatu yang harus di belakangi, tetapi oleh beliau hal itu dirubah. Bagaimana sungai itu jadi halaman depan kita, dengan ditata dan dibangun prasarana yang mendukung dengan bagus. Wajah sungai kita sudah berubah. Dikawasan ini kita bisa melihat daerah urban untuk ukuran Jogja. Saya dan Antok cukup terkesima juga. Jelas wajah ini berbeda dengan kawasan urban dikota- kota lain apalagi seperti di Jakarta. Sambil meminum air bawaan kita dan memakan camilan, kami merasa sedikit terhibur. Kami bersyukur telah memiliki seorang arsitek yang dengan kepekaan sosial yang luar biasa.
Kami sudah sampai didaerah kelurahan Catur Tunggal masuk kecamatan Depok. Kalau lewat jalan besar, posisi kami sejajar dengan jalan AM Sangaji. Ya sekali lagi jalan didepan kami terputus, rupanya alur sungai berbelok tajam dan arusnya cukup kuat sehingga bantaran sungai yang ada tergerus air, apakah harus balik? Tentu tidak sepeda masih bisa diangkat dan dipanggul. Bukan masalah besar, ini untungnya kalau kita memakai sepeda. Akhirnya kita sampai dijalan besar, masih dijalan AM Sangaji. Pas dimulut gang dari arah sungai ada warung makan. Akhirnya perut kami yang keroncongan sudah menemukan jawabannya. Setelah 2 mangkok mie ayam kita habiskan dan minum beberapa gelas es jeruk. Energi kami sudah pulih kembali, ingat adanya pekerjaan yang harus kami selesaikan hari ini. Well show must go on! Tidak peduli hari masih panas perjalanan kami lanjutkan kembali. Kami masih penasaran dengan rute pinggiran Kali Code tadi, apalagi melihat panas siang ini. Sepeda kami kayuh lagi dan kami belokan kearah sungai kembali. Di pinggir kali Code yang masuk daerah Blimbing sari ini, sedikit berbeda dengan daerah sebelumnya. Disini jalannya lebih lebar dan dikonblok lebih rapi. Sepertinya sudah direncanakan dan di tata lebih rapi. Apalagi kalau kita melihat disebelah kiri. Ada beberapa bangunan kecil untuk bercengkrama menikmati pemandangan sekitar. Saya masih berpikir area ini siapa yang menciptakan dan untuk siapa?. Terasa tidak dirawat dan dibiarkan rusak apalagi dilerengnya masih banyak sampah yang menumpuk tidak dibersihkan. Sayang kalau melihat pemandangan sungai yangai sudah indah kemudian ada fasilitas bangunan yang mendukung tetapi dibiarkan tidak dipakai dan tidak dirawat. Kalau tempat ini dikelola dengan baik tentu bisa jadi aset wisata untuk masyarakat kota. Kembali lagi perjalanan kami tidak bisa lancar dan berjalan lurus diposisi kiri sungai. Kali ini kita harus menyeberang kea rah kanan sungai. Untung saja, ada bendungan sungai yang airnya agak dangkal sehingga memungkinkan kami untuk menyeberang. Ketika menyeberanginya kita tidak memanggul sepeda lagi tapi langsung saja mengayuh. Seru juga, kalau tidak hati- hati dan tidak pintar mengimbangi diri kita bisa saja jatuh kearah sungai yang lebih dalam. Rute sebelah kanan Kali Code tidak jauh berbeda masih sama. Masih terlihat ada bantaran sungai yang bisa dilewati, cuek saja kami terus menggayuh sepeda kami lurus kearah utara. Dengan mengikuti bantaran sungai ini sampai akhirnya mentok, berhenti sama sekali dan tidak bisa dilewati untuk bersepeda. Kami akhirnya berhenti, kalau kami meneruskan kembali dibantaran itu tentu pilihannya hanya satu yaitu berenang. Jelas kalu itu kami pilih, kami bukan pesepeda dong! Itu tadi cerita dari saya dan Antok, ketika iseng untuk menghindari teriknya panas matahari dan untuk menghindari bersepeda bareng dengan bis kota. Seru dan menantang, kita harus cepat berpikir untuk memutuskan antara terus menggayuh sepeda, berhenti, memanggul, menuntun atau mungkin berenang. Perjalanan ini seperti perjalanan di dunia bawah, sekali waktu kita naik untuk melihat dunia atas, yang saya maksud jalan besar seperti biasa yang sering kita lewati. Tidak ada salahnya sesekali kita berubah menjadi atlet triathlon, dengan lari, bersepeda dan kemudian berenang. Kami pikir rute ini adalah jalur sutera di antara belantara kota. Kita semacam menemukan oase di gurun pasir yang memiliki keasyikannya sendiri.dapat menjadi jawaban dari ketakutan kita akan polusi dari bis kota dan hitamnya kulit tersengat oleh matahari.Dan yang pasti, rute ini mendidik kita untuk menjadi manusia yang santun, pandai menempatkan diri, mudah bersosialisasi dan peduli dengan lingkungan sekitar. Penasaran atau tidak percaya? Try it!
|
||
| Home | About Us | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 cyclistreport.org | |||