PERJALANAN

Penjelajahan di Panggung Ratu Boko

Siwa Plateau, adalah nama lain dari gugusan bukit padas di sebelah selatan Candi Prambanan. Bukit padas itu tidak hanya menyimpan batu-batu keras berwarna putih tapi juga batu-batu berukir yang teronggok di tempat itu sejak ratusan tahun yang lalu, kompleks Ratu Boko. Pada jurnal yang kedua (kalau tidak salah) sudah di gambarkan peta wilayah ini serta jalur-jalur yang mungkin dilalui sepeda. Nah pada jurnal yang ketiga ini kami membuktikan kesahihan peta itu.

Kami (Oblo, Ilal, Yogi, dan saya) memutuskan untuk menguji jalur yang telah di buat Popok dan Oblo seminggu sebelumnya. Jalur itu melewati beberapa karakter jalan: aspal licin, aspal rusak, jalan tanah berpasir, jalan berbatu krakal kecil, tanjakan ringan sampai menengah, turunan ringan sampai menengah dan yang paling menarik jalan setapak di jembatan kereta api. Kami memutuskan berangkat jam 5.30 pagi. Jalurkami yang utama adalah menelusur pinggiran selokan mataram. Karena jalur ini cukup sepi pada jam-jam itu kami berani memacu sepeda kami dengan sedikit kencang. Di kanan-kiri jalan selokan mataram adalah gabungan antara sawah dan perumahan. Masalah utama pada jalur ini adalah sering kali muncul motor yang dipacu dengan cukup kencang sedangkan lebar jalan amat terbatas, sehingga akan sangat bijak bila sepeda sebagai mahluk yang lemah sedikit mengalah.

Jalur yang cukup menegangkan adalah jembatan kereta api disebelah selatan Prambanan. Kami datang kurang lebih pukul 6.30 pagi di lokasi ini. Saat kami melintas di tengahnya, tiba-tiba saja kereta api Pramex melintas kencang. Sungguh pengalaman yang menegangkan, kalau Anda pernah menonton Mission Impossible pada adegan ketika sang lakon beraksi diantara helikopter dan kereta api cepat kurang lebih begitulah pengalamannya. Setelah kaget karena diterpa angin kencang yang ditimbulkan karena laju kereta Pramex, kami menenangkan diri dengan menyeruput kopi panas dan sekerat roti manis, dan kemudian kami meneruskan perjalanan ke tujuan utama Ratu boko.

Situs ini bisa di jangkau melalui dua jalur utama. Yang pertama merupakan jalur resmi, yaitu dengan masuk melalui pintu utama. Jalan aspal dan pintu masuk yang mewah dan tertata tidak kami pilih. Kami memilih jalur perjuangan. Jalur ini terletak di utara punggung bukit Boko. Melalui tanjakan yang landai sampai menengah,yang kami capai dengan gigi 1 dan 7, 8, atau 9, kami sampai di sebuah Sekolah dasar yang damai. Kami membiarkan murid-murid SD yang tidak berdosa itu meneriaki kami dengan , "halo turis" karena toh tujuan kami bukan datang ke sekolah mereka yang mengenaskan itu, tapi ke pusat peradaban yang ditinggalkan, ratu Boko. Kami menyeruput kopi ke dua kami di "panggung" ratu Boko. Tempat itu sebenarnya adalah semacam pertapaan, dengan gua-gua rendah yang dipahatlangsung di batu. Beberapa teman menyebut tempat ini sebagai little Grand Canyon. Mungkin mereka berlebihan tetapi biarlah siapa yang bisa menyalahkan orang yang berusaha menghibur dirinya sendiri setelah di dera tanjakan dan turunan yang membuat tangan keriting?

Situs utama Ratu Boko terletak hanya beberapa kayuhan pedal, sebuah bangunan dengan bentuk pelataran luas. Yang paling kentara adalah adanya saluran-saluran air yang saling berhubungan satu sama lain. Selain itu kolam-kolam penampungan air ,yang juga saling dihubungkan dengan selokan-selokan, mendominasi situs ini. Anda bisa melihat sebuah arsitektural lanskap yang "menegangkan". Indah dan nglangut.

Dari situs ini kita langsung menuju ke Candi berikutnya, candi Barong. Candi sebenarnya bisa terlihat dari pelataran Ratu Boko. Untuk menuju ke sana Anda bisa melewati jalan setapak yang menempel situs keputren. Jalan setapak itu berbatu-batu dan relatif sempit. Tanjakannya cukup sulit, karena banyak batu yang nongol di tengah jalur itu. Akan tetapi Anda disarankan untuk lewat jalan ini. Sekali lagi pengalaman melewati kesunyian dengan hanya ditemani suara ranting yang terinjak ban sepeda, di sana sini suara burung mencicit dan leguhan napas letih akan mengantar orgasme Anda dengan sempurna. Multiple orgasmus!

Candi Barong adalah desahan napas terakhir ketika orgasmus itu datang, seperti anti klimaks pelan dan meyenangkan serta mengantarkan kesenangan yang basah yang lengket(Anda harus pernah melakukan hubungan seks untuk dapat membandingkan pengalaman ini). Di candi ini kami menghabiskan bekal makanan kami. Jalur pendek yang melewati persawahan kering mengantar kita pada "penampakan" Candi Banyu Nibo yang mungil dari kejauhan.

Dari candi ini kami langsung pulang. Panas mulai meyerang. Dan kamerad Ilal sudah mulai mengeluh karena takut menjadi hitam oleh sengatan matahari. Di tengah perjalanan pulang kami mampir di sebuah warung soto "Ajaib". Bersama dengan para petani tua dengan topi lakennya, kami menghabiskan teh manis gula batu dan sepiring soto yang harganya sangat ajaib. Perut kenyang dan orgasme yang telah diraih, kami memacu sepeda kami pulang. Dan neraka pun menjelang. Panas, riuh knalpot, dan debu menyambut kami orang tidak berdosa ini. Elli, Elli Lama Sabaktani?


Agung Kurniawan
09.03

 

 
  Home | About Us | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 cyclistreport.org