ESAI

Halaman Belakang Kita

Saya kurang tidur. Semalamam saya terlalu asyik menjelajah internet sampai jam 3 pagi dan lupa akan janji pada diri sendiri untuk tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Soalnya adalah saya mengakses internet di kantor teman, jadi mau tidak mau saya dipaksa bangun pagi. Jadilah saya jam 7 pagi sudah harus bangun. Karena kantor teman saya itu -tentu saja- harus segera buka dan beroperasi.

Jarak kantor itu dengan rumah saya sekitar 30 km, dan jarak tempuh yang biasa saya lakukan sekitar 45 menit untuk pergi. Tetapi karena ini pulang, berarti bisa lebih cepat sekitar 20 menit atau kurang. Saya tinggal di Yogyakarta, yang secara geografis permukaan tanah di utara (arah gunung Merapi) lebih tinggi daripada permukaan tanah yang di selatan (ke arah Laut Selatan). Memang rumah saya di daerah selatan (Giwangan), dan kantor teman saya tadi ada di utara (Gejayan).

Meskipun rute yang saya lalui pagi ini terbilang menurun -dan itu artinya saya bisa menggayuh lebih cepat- tetapi karena kondisi badan agak lemas akibat kurang tidur, maka saya memilih rute alternatif yang lebih sepi. Saya mengambil jalan tembus dari Gejayan – Nologaten – Ambarukmo – Sorowajan - Gedongkuning - Rejowinangun - Kotagede - Giwangan. Pagi-pagi begini, rute ini cukup lengang. Sambil menyemangati diri sendiri, saya pun mengayuh sepeda. Pulang.

Seru juga, ternyata kalau dihitung-hitung daerah yang saya lewati ini terbilang dekat dengan pusat kota. Bagi saya, yang disebut kota adalah daerah yang berada di dalam lingkar jalan ring-road. Dan jalan yang saya tempuh ini berada di dalam lingkar ring-road bagian timur. Di daerah ini masih cukup banyak tanah persawahan, meskipun pelan tapi pasti mulai dihimpit pemukiman baru. Daeraj ini juga masih memiliki beberapa jalan tanah yang menembus dan memotong di antara tanah-tanah persawahan. Kalau mau iseng dan cuci mata, sekali-sekali bisa ber-off road ria!

Tetapi.. tiba-tiba hati saya jadi sesak. Saya berhenti, menaruh sepeda saya, lalu berdiri memandang. Di pematang sawah, di pojokan tanah kosong, di pinggiran kampung. Sampah berceceran terbungkus kantong-kantong plastik. Sepertinya dengan sengaja dibuang sembarangan. Apa yang dipikirkan orang-orang yang membuang sampah-sampah itu? Apakah mereka tidak punya tempat sampah sendiri? Apakah tak ada pengelolaan sampah kolektif di tempat tinggal mereka? Atau mereka malas untuk ikut iuran sampah?

Sampah-sampah ini jelas mencerminkan kelupaan masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah. Ia juga mencerminkan minimnya lahan pembuangan sampah. Atau bisa jadi kita adalah tipe masyarakat pemalu, yang tidak suka kalau diri kita terlihat kotor, sehingga kita menghalalkan pembuangan sampah dimanapun, asal tak di halaman kita sendiri. Asal di depan bersih, kotor di belakang pun tak jadi soal.

Benar-benar pagi ini jadi pagi yang buruk bagi saya. Saya jadi marah. Saya teringat sebuah baliho besar di perempatan Gondomanan, sebelah timur kantor pos besar, yang menyerukan bahwa masyarakat Yogyakarta mencintai kebersihan. Kontras sekali kalau dibandingkan dengan apa yang berada di depan mata saya kini.

Lalu saya juga jadi sedih, melihat tanah-tanah persawahan yang kian hari kian berkurang dan akan segera berganti menjadi pemukiman atau pertokoan.

Dengan hati dongkol, sepeda pun saya kayuh lagi. Rasa kantuk saya langsung hilang. Kalau ada teman bilang dengan bersepeda kita bisa melihat sekeliling dengan lebih jelas dan detil, memang ada benarnya juga. Dia benar. Pagi ini saya membuktikannya dengan melihat wajah halaman belakang kita yang sebenarnya.


Popok Tri Wahyudi
02.06

 

 
  Home | About Us | Privacy Policy | Contact Us | ©2006 cyclistreport.org